banner

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA,SEMOGA BERMANFAAT
Tampilkan postingan dengan label DUNIA_ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA_ANAK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

5 Kebiasaan Buruk Ayah Dan Ibu

Siapa bilang jadi orangtua tak pernah bersalah dalam mendidik dan merawat anak? Sebagai Ayah dan Ibu, Anda berdua tentu pernah secara tak sengaja memperlihatkan kebiasaan buruk di depan Si Kecil, kan?

Setiap orangtua tentu selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Apakah dengan membuat Si Kecil tetap sibuk beraktivitas, atau memberi kebebasan memilih kepadanya. Yang jelas, orangtua selalu merasa, membahagiakan anak adalah tugas utama mereka. Nah, berikut ini 5 kesalahan yang sering dilakukan orangtua dan cara mengatasinya!

1. Terlalu Banyak Negosiasi
Banyak orangtua merasa sudah bersikap adil dan demokratis ketika bertanya kepada anak-anaknya tentang segala hal. Mulai dari soal pakaian yang ingin dikenakan, sampai soal menu untuk makan malam. Ini merupakan kebiasaan, terutama bagi orangtua yang bekerja, karena merasa bersalah karena tak ada di rumah.
Tetapi yang mengejutkan para ibu dan ayah, anak-anak sebenarnya ingin diberitahu mengenai apa yang harus dilakukan, dan justru jadi takut berpendapat bila terus ditanyai. Jika orangtua harus mengambil keputusan, banyak dari mereka melakukan kesalahan dengan mencoba memberi banyak alasan, sementara anak-anak akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menguasai orangtuanya.
Begitu sudah menetapkan keputusan, beri penjelasan singkat. Lakukan kontak mata dan sampaikan pernyataan dengan jelas, di dalam 30 kata atau kurang, mengapa aturannya harus begitu. Kesalahan lainnya adalah pada saat orangtua menyampaikan permintaan yang terdengar seperti pilihan.
Jika ingin anak mandi tetapi ucapan terdengar seperti pertanyaan, anak akan memanfaatkannya dengan mengatakan "tidak". Kita tidak perlu merasa bersalah jika harus menyuruh anak mandi, karena itu sudah menjadi bagian dari tugas sebagai orangtua.

2. Tak Pernah Membiarkan Anak Merasa Bosan
Seberapa sering, sih, Si Kecil merengek, "Saya bosan, saya bosan!" dan Anda merasa seolah-oleh ini salah Anda? Banyak para ibu dan ayah merasa gagal jika tidak bisa menstimulasi anak-anaknya.
Zaman sekarang, banyak orangtua sering merasakan kebutuhan untuk mengelola kehidupan anak-anaknya di setiap hal. Dan kini, anak-anak lebih banyak berada di dalam rumah daripada bermain di luar, dan orangtua merasa bertanggung jawab untuk membuat Si Kecil makin sibuk.
Padahal, anak-anak perlu merasa sedikit bosan. Dengan begitu, akan mengajarkan kepada mereka untuk mampu berpikir kreatif dengan waktu yang dimiliki, serta belajar bahwa kehidupan tak selalu menyenangkan.
Anda pun perlu mengingat, "Saya bosan!" kadang-kadang bisa berarti lain. Sering kali seorang remaja yang mengatakan bosan dan menggunakan kata-kata ini sebagai senjata untuk mengganggu orangtuanya, atau sebagai cara untuk menghindar dan pergi dari rumah.

3. Membelikan Segala Yang Anak Minta
Anak sering mengadu kepada orangtuanya dengan mengatakan, dirinya adalah satu-satunya anak di dalam kelas yang tak punya sepatu merek tertentu atau permainan komputer.
Banyak orangtua lalu membanjiri anak-anaknya dengan hadiah, dan membuat anak jadi tak menghargai uang. Ini sangat berbahaya bagi para orangtua bekerja yang menggunakan hadiah sebagai pengganti dari ketidakhadirannya.
Akibatnya, anak-anak akan memanfaatkan rasa bersalah orangtuanya. Jika anak-anak sangat menginginkan sesuatu, biasakan mereka menabung dari uang jajannya dulu. Inti pelajaran bagi anak, jika mendapatkan sesuatu dengan susah payah, mereka akan lebih menghargainya.

4. Terlalu Memaksakan Kehendak
Orangtua selalu berkata, keberhasilan yang dicapai sang anak berasal dari diri mereka. Akibatnya, orangtua merasa sudah melakukan yang terbaik bagi anak-anaknya, padahal ternyata mereka melakukan hal yang membahayakan bagi anak-anak.
Banyak orangtua yang merasa keberhasilan anaknya merupakan refleksi dari dirinya. Anda harus bertanya pada diri sendiri, "Kebutuhan siapa yang paling dipentingkan? Anda atau anak?
Jika dukungan berubah menjadi tekanan, anak-anak justru bisa menjadi gelisah dan prestasinya mulai mundur. Mereka juga dapat mengalami gejala stres, seperti sakit perut yang tak jelas, sembelit, tak dapat tidur, gangguan tidur dan mimpi buruk.
Pada anak-anak yang sensitif, harapan orangtua yang terlalu tinggi agar anak-anak menjadi seperti orang tuanya juga dapat menurunkan rasa percaya diri mereka. Bahkan, walaupun anak-anak melakukannya dengan baik untuk jangka waktu yang pendek, mereka mungkin akan memberontak dan melakukan hal yang berlawanan di usia remaja.
Oleh karena itu, biarkan anak bermain dengan bebas, tanpa tekanan apapun agar berhasil baik. Berikan kesempatan dan biarkan mereka berkembang sesuai usianya.

5. Tak Pernah Bilang Kata Tidak
Banyak orangtua terperangkap dengan berpikir, mengatakan ‘ya' kepada setiap permintaan anak-anak akan membuat mereka bahagia. Masalah juga kerap terjadi kepada orangtua yang dibesarkan di dalam keluarga yang sangat keras, dan ingin menerapkan hal berbeda kepada anak-anaknya.
Jika tak dapat mengatakan ‘tidak', Anda tidak melakukan tugas sebagai orangtua dengan benar. Begitu Anda mengatakan ‘tidak', hal yang paling penting adalah konsisten dan tidak mengubah pikiran. Sebab bila tidak begitu, anak-anak akan memanfaatkan kelemahan Anda.

Sumber: http://seputarduniaanak.blogspot.com/2009/04/5-kebiasaan-buruk-ayah-dan-ibu-siapa.html

Tanda-tanda Anak Berbohong


Pernahkah kalian berbohong? Ketika berbohong, siapa orang yang pertama kali tahu bahwa kalian telah berbohong? Ibu, bapak atau kakak? Menurut para ahli, Ibulah yang paling bagus bisa mendeteksi bahwa anak telah berbohong. Walaupun perlu diasah juga agar seorang ibu bisa mendeteksi bahwa anak/si kecil telah berbohong.

Berikut ini tanda-tanda anak berbohong (ciri-ciri anak berbohong) yaitu:

1. Perubahan raut muka
Perubahan ekspresi dari raut muka dan gerakan tubuh seperti hidung yang kembang-kempis atau menggosok-gosok alis, sering merupakan tanda-tanda bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.

2. Terlalu banyak bicara
Anak yang berbohong merasa canggung bila berbohong dan sebagai kompensasinya dia justru akan berbicara lebih banyak dari biasanya. Kecuali bila memang anak Anda termasuk tipe yang cerewet. Bila tidak, maka biasanya dia sedang menyembunyikan sesuatu dan berusaha keras agar Anda tidak mengetahuinya.

3. Perubahan nada suara
Karena anak tahu bahwa berbohong itu tidak baik, pada saat mereka berbohong nada suara menjadi lebih rendah atau terjadi perubahan nada dan tempo pada saat dia berbicara.

4. Mengulang-ulang kata
Anak akan mengulang kata-katanya agar Anda percaya, agar tidak ketahuan bahwa anak/si kecil telah berbohong.

5. Sembunyi
Anak yang berbohong biasanya malu bertemu dengan Anda sebagai orang tua, bisa dengan sembunyi atau mengurung diri di kamar. Walaupun sembunyi lebih banyak dilakukan pada anak yang ketakutan.

6. Jadi pendiam
Berubah jadi pendiam bisa juga menjadi tanda bahwa anak telah berbohong. Setiap kali ditanya, "Adik kenapa?" Jawabnya," tidak apa-apa koq."
Anak lebih banyak diam, dalam hatinya ada 2 pilihan, berkata jujur atau tetap bohong ya?

Anda sebagai orang tua pasti tahu secara dekat bagaimana anak-anak Anda setiap harinya, dan ketika mendapati perubahan pada anak Anda segeralah ditanya, mengapa si kecil bersikap seperti itu.

Semoga bermanfaat!

sumber : http://seputarduniaanak.blogspot.com/2010/09/tanda-tanda-anak-berbohong.html